Untitled Document
 
Dinas Pembinaan Mental Angkatan Darat.  "PINAKA WIRA TAMA SAPTAMARGA"
 
 
Sabtu, 13 Juni 2026
BRIGJEN TNI RIDWAN, S.Sos.
KADISBINTALAD
LINK TERKAIT
 
SOSIAL MEDIA
 
 



RENUNGAN ISLAM
26-Feb-2021, 07:08:06 WIB

Harga Sebuah Kehidupan Hadirin Rahima kumullah.... Rasa cinta dunia yang berlebihan, menyebabkan banyak diantara kita kurang tawadu’ dalam menjalankan kehidupan yang diberikan oleh Allah. Apa itu Tawadhu’? Tawadhu’ adalah rendah hati,  tidak sombong. Pengertian yang lebih dalam adalah kalau kita tidak melihat diri kita memiliki nilai lebih dibandingkan hamba Allah yang lainnya.  Orang yang tawadhu’  adalah orang  menyadari bahwa semua kenikmatan yang didapatnya bersumber dari Allah SWT. Lawan tawadhu adalah takabur, yang berfikiran bahwa dunia dengan segala kemewahannya adalah tujuan utama hidup. Ia lupa jika dunia hanyalah sebuah sarana dan pelengkap  beribadah kepada Allah SWT, masih ada kehidupan yang jauh lebih lama dan utama yaitu akherat. Jika kita diberikan sesuatu oleh Allah selama di dunia ini, itu hanyalah titipan. Hanya titipan, sehingga suatu saat titipan itu di ambilnya kemabali  oleh Yang Maha Memiliki kita tidak perlu kecewa atau bersedih hati. Justru yang perlu kita khawatir adalah  apa yang sudah kita perbuat selama titipan itu berada pada kita, perbuatan baik atau buruk ? Renungan kali ini berbicara tentang cerita sufistik mengenai pandangannya terhadap dunia. Hadirin sekalian.... Dunia ini adalah senda gurau.Dunia ini hanya permainan. Dan dunia ini hanyalah kesenangan yang menipu. Demikian keterangan Alquran dalam surah al-An'am [6]: 32, Yang artinya : Dan tiadalah kehidupan dunia ini selain dari main-main dan sendau gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa.Maka tidaklah kamu memahaminya! (QS. 6:32)  Karena hal itu pula, banyak ahli tarekat yang melakukan uzlah (mengasingkan diri) dari urusan dunia dengan tujuan agar mereka bisa lebih dekat kepada Allah. Bahkan, banyak para sufi yang sengaja enggan untuk melirik masalah dunia. Kalaupun “melirik”, itu hanya sebatas sebagai bekal untuk meneruskan perjalanan menuju kehidupan akhirat yang lebih hakiki (abadi).          Ada sebuah kisah menarik yang layak kita renungkan sebagai muhasabah diri, Harunar-Rasyida dalah seorang khalifah terbaik dari bani Abbasiyah, dikenal sebagai pemimpin yang adil dan bijaksana.Khalifah Harun Ar-Rasyid memiliki kewibawaan yang sangat disegani kawan maupun lawan. Suatu hari, Khalifah Harunar-Rasyid merasa gelisah.Padahal kekuasaannya sudah begitu luas, harta dan kekayaannya berlimpah, istrinya pun cantik jelita. Namun ia merasa ada yang kurang dari dirinya.Khalifah pun kemudian memerintahkan para hulu balangnya mencari seorang ulama untuk memberikan nasihat kepadanya.Sudah beberapa ulama yang datang kepadanya, tetapi tak satu pun mampu menghilangkan keresahan hatinya. Setelah mencari sekian lama, akhirnya ada seorang ulama yang penampilannya sangat sederhana tetapi tampak berwibawa. Awalnya, sang khalifah kurang menyukai penampilan ulama ini. Namun, karena ia sudah meminta, akhirnya sang khalifah pun mau meladeninya. Khalifah langsung berfokus pada tujuannya.“Berikanlah nasihat terbaik kepadaku,” ujar Khalifah Harunar-Rasyid.Sang ulama zahidini pun kemudian menimpali, “Bukankah sudah banyak ulama yang memberikan nasihat kepada mu dengan dalil-dalil Alquran dan hadis Nabi Muhammad SAW?”“Betul, tetapi nasihat mereka belum ada yang bisa aku terima karena isinya tidak menyentuh hati agar aku semakin lebih baik,” jawab khalifah “Baiklah kalau begitu. Sebelum saya memberikan nasihat kepadamu, berikanlah saya satu gelas air putih agar bisa kita minum bersama,” ujarnya. Khalifah memerintahkan hulu balang kerajaan bersegera mengambilkan air putih dua gelas, yang satu untuk ulama dan satu gelas lainnya untuk dirinya. Ketika air putih di dalam gelas itu sudah ada di depannya, Khalifah Harun ar-Rasyid mengajak sang ulama untuk meminum air putih tersebut. “Sebelum Anda meminumnya, bolehkah saya bertanya kepada Anda?” tanya sang ulama. Khalifah pun mempersilakannya.“Seandainya Anda berjalan jauh di padang pasir yang sangat panas dan tandus, sementara Anda tidak membawa air minum dan Anda sudah sangat kehausan. Bila Anda tidak segera mendapatkan air minum, maka Anda akan mati kehausan. Di saat bersamaan, ada seorang musafir yang datang dan memiliki setengah gelas air.Berapa Anda akan membayar setengah gelas air itu agar Anda bisa tetap hidup?” tanya sang Zahid.“Saya akan memberikan setengah kekayaan kerajaan untuk mendapatkan air itu agar saya bisa bertahan hidup dan selamat,” ujar khalifah mantap.Keduanya kemudian bersama-sama minum air yang sudah disediakan tadi.“Kita baru saja minum setengah gelas air. Sekarang, seandainya air yang Anda minum tadi mengandung penyakit dan dapat menyebabkan kematian. Di saat bersamaan, ada seorang tabib yang mempunyai sedikit obat, tetapi harganya sangat mahal.Maka, agar Anda selamat, berapa Anda akan membayar obat tersebut untuk mengeluarkan setengah gelas air yang sudah Anda minum tadi?”“Demi kesembuhan saya, maka saya siap menebus obat itu walau dengan setengah dari kekayaan kerajaan ini,” ungkapnya.Khalifah mulai kesal, karena ia ingin meminta nasihat dari sang ulama tetapi justru pertanyaan-pertanyaan yang diberikan. “Saya memerlukan nasihatmu, wahai ulama,” kata khalifah dengan tegas.
“Wahai tuan, sebenarnya saya sudah memberikan nasihat untuk mu. Anda minum air, lalu Anda akan membayar setengah dari kekayaan Anda agar bisa tetap hidup. Lalu, Anda minum setengah gelas air, dan karena diduga mengandung penyakit yang dapat membahayakan hidup Anda maka Anda akan menebus obat yang Anda beli dengan harga setengah dari kekayaan Anda.”“Benar,” kata khalifah.
“Lalu, nasihat apa yang engkau berikan padaku?” tanya khalifah lagi.“Ketahuilah tuan, sesungguhnya hidup Anda, kekayaan dan kekuasaan Anda yang luas ini, harganya tidak lebih dari segelas air.Itu artinya, kita hidup harus banyak bersyukur atas semua anugerah yang diberikan Allah SWT. "Mendengar hal itu, maka menangislah sang khalifah. Dari cerita di atas, marila kita memperbanyak muhasabah (evaluasi) diri, agar selama di dunai ini kita terhindar dari hal-hal yang tak berguna. Dunia bukan tidak berarti, namun hendaklah dunia kita jadikan sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, agar hidup ini berharga. Demikianlah saudaraku semoga Allah memberikan kita taufik untuk selalu menjalankan ketaatan kepada Allah agar kita senantiasa dalam ridho-Nya.Wallahua'lam (ZA).

 



 

 

  Copyright @ 2012 - disbintalad