Untitled Document
 
Dinas Pembinaan Mental Angkatan Darat.  "PINAKA WIRA TAMA SAPTAMARGA"
 
 
Minggu, 14 Juni 2026
BRIGJEN TNI RIDWAN, S.Sos.
KADISBINTALAD
LINK TERKAIT
 
SOSIAL MEDIA
 
 



SEBERAPA PENTINGKAH MENTAL ?
01-Jun-2016, 09:07:45 WIB

    Seorang prajurit untuk dapat melaksanakan tugas yang optimal tentunya perlu didasari oleh mental yang baik dan tangguh. Mengapa juga mental prajurit itu harus tangguh, karena bukan hanya sekedar melaksanakan tugas pokoknya akan tetapi prajurit didalam melaksanakan tugasnya akan menghadapi berbagai ancaman,hambatan, gangguan dan tantangan sesuai perkembangan lingkungan strategis yang berlaku saat ini.

"Ini semua merupakan refleksi dari mental yang sudah terserang oleh faham-faham lain, khususnya faham komunis".

 “Maka tidak ada salahnya menempatkan faktor mental menjadi penjuru dalam setiap bentuk kegiatan. Karena tujuan Bintalad yaitu mewujudkan mental yang tangguh terhadap prajurit, PNS TNI AD  beserta keluarganya sesuai dengan jati diri TNI”.

 
    Perlu kita pahami bersama bahwa kondisi saat ini disadari atau tidak bangsa Indonesia sedang dilanda serangan “mental” atau yang sering kita dengar dengan “Proxywar” atau  Perang proxy. Yaitu suatu konfrontasi antar dua kekuatan besar dengan menggunakan pemain pengganti untuk menghindari konfrontasi secara langsung dengan alasan mengurangi risiko konflik langsung yang berisiko pada kehancuran fatal. Biasanya, pihak ketiga yang bertindak sebagai pemain pengganti atau sering diperankan oleh negara kecil, namun kadang juga bisa nonstate actors yang dapat berupa LSM, ormas, kelompok masyarakat, atau perorangan.
    Perang proxy ini, tidak dapat dikenali dengan jelas siapa kawan dan siapa lawan karena musuh mengendalikan dari jauh (nonstate actors). Proxy war telah berlangsung di Indonesia dalam bermacam bentuk, seperti gerakan separatis, narkoba,porstitusi/pornografi atau porno aksi dan bahkan masalah kebijakan yang menyangkut kepemimpinan pemerintah, dan lain-lain dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Serangan Mental

    Serangan mental tidak hanya melanda masyarakat sipil bangsa Indonesia namun yang memprihatinkan saat ini sudah masuk kedalam lingkungan prajurit,pns dan keluarga TNI khususnya penyalahgunaan Narkoba, portitusi, pornografi dan porno aksi/kekerasan seksual. Dari mulai unsur pimpinan level perwira menengah sampai dengan prajurit paling bawah, pns dan keluarga tidak luput menjadi sasarannya. Sesuai data Spamad tentang personel yang terlibat pelanggaran hukum displin dan tata tertib di lingkungan TNI AD setiap tahunnya berkisar 1000 orang sampai dengan 2000 orang, kondisi ini tentunya sungguh sangat memprihatinkan kita semua.
    Serangan mental saat ini telah meretas ke nilai-nilai kehidupan berbangsa dan bernegara (Pancasila, UUD NRI 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika). Yang mendapat serangan paling kuat saat ini dirasakan terhadap nilai-nilai Ideologi Pancasila, dimana serangan ini dimulai dari tahun 1945-1965 dan sampai sekarang ini ideologi komunis/PKI masih menunjukan eksistensinya untuk mempengaruhi kebijakan pemerintah. Pada awal reformasi (1998), sejak dihapuskannya BP7 (Badan Pembina Pendidikan Pelaksanaan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila), serta materi pelajaran Pancasila dan P4 dari kurikulum pendidikan nasional, maka nilai-nilai filosofi Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa Indonesia lambat laun telah tergerus oleh kemajuan jaman dan faham-faham lain, khususnya faham komunis yang menjadi bahaya laten.
    Dampaknya dari serangan mental sangat luar biasa, kita bisa bayangkan, anak-anak remaja jaman sekarang sudah berani melakukan tindakan brutal dan tidak manusiawi, cenderung mirip dengan cara-cara komunis. Memperkosa, membunuh dan memutilasi adalah dianggap cara pintas untuk menyelesaikan masalah agar menghilangkan bukti perbuatannya. Hal inipun sudah merambah di kalangan prajurit kita, kejadian yang baru lalu dilakukan oleh seorang Prada Samuel Jitmau anggota Yonif 172/NYS Sorong, yang dengan tega dan sadis menghabisi seorang ibu dan kedua anaknya serta bayi yang sedang dikandung, setelah melakukan pesta miras. Ini baru salah satu contoh, banyak lagi peristiwa sadisme yang kerap dilakukan oleh oknum prajurit dalam menyelesaikan masalah dengan jalan pintas. Ini semua merupakan refleksi dari mental yang sudah terserang oleh faham-faham lain, khususnya faham komunis.
      
Tugas Bintalad.

    Pada dasarnya konsep Penyelenggaraan pembinaan mental merupakan upaya, untuk membentuk, menumbuhkan, memelihara, meningkatkan dan memantapkan mental prajurit dan PNS TNI AD beserta keluarganya melalui pembinaan mental rohani, pembinaan mental ideologi dan pembinaan mental kejuangan. Namun pada kenyataannya kegiatan pembinaan mental yang selama ini dilaksanakan di satuan satuan jajaran TNI AD dirasakan masih belum menyentuh sendi sendi kehidupan prajurit, Pns TNI AD beserta keluarganya. Karena kegiatannya cenderung dilaksanakan dengan kegiatan  ” Ceramah”, yang hanya bisa terserap oleh pendengarnya  ± 20 %.
    Mengingat begitu pentingnya peran Pembinaan Mental Angkatan Darat yang merupakan bagian integral dari pembinaan personel TNI AD dalam menyelenggarakan pembinaan mental rohani, mental ideologi dan mental kejuangan prajurit dan PNS TNI AD agar memiliki mental yang tangguh beserta kesiapan mental keluarganya dalam rangka mendukung Tugas Pokok TNI AD. Maka pembinaan mental harus dapat menyehatkan, menyejukan dan menyatukan.
    Yang dimaksud dengan pembinaan mental yang ”Menyehatkan” adalah pembinaan mental yang dilakukan terhadap orang-orang yang memiliki kategori ”sakit mental” seperti ketergantungan narkoba, porstitusi, keterpengaruhan faham, insubordinasi, pelaku-pelaku tindak kriminal dan lain-lain yang terkait dengan penanganan hukum pidana. Pembinaan mental yang dilakukan yaitu melalui kegiatan ”Perawatan mental”.
Pembinaan mental yang ”Menyejukan” yaitu pembinaan mental yang membuat suasana kebathinan menjadi sejuk/damai. Pembinaan mental ini diberikan kepada orang-orang yang mentalitasnya cukup baik dan terpelihara. Pembinaannya melalui kegiatan ”Bimbingan Mental”. Agar mental-mental yang sudah cukup baik dapat ditingkatkan menjadi tangguh.
    Pembinaan mental yang ”Menyatukan” yaitu pembinaan mental yang dapat menciptakan kekompakan dan soliditas. Pembinaan mental ini tidak hanya ditujukan kepada orang-orang yang memiliki mental yang baik saja, akan tetapi terhadap orang-orang yang termasuk dalam ”Perawatan dan Bimbingan Mental”  pembinaannya melalui kegiatan ”Penyuluhan Mental”, agar mereka-mereka bisa bersatu dengan rekan-rekannya yang telah memiliki mental yang baik/tangguh.
    Sesuai dengan Tugas Pokoknya sebagai fungsi teknis khusus TNI AD, Pembinaan Mental Angkatan Darat menyelenggarakan pembinaan mental yang meliputi mental rohani, mental ideologi dan mental kejuangan dalam rangka mendukung Tugas Pokok TNI AD. Kalau kita lihat didalam fungsi-fungsi Bintalad dibawah ini yang sesuai Perkasad nomor /71/XII./2013 Tanggal 31 Desember 2013 tentang Bujuk Induk Bintal, kiranya begitu sangat penting dan mendesak untuk  dilaksanakan dan menjadi skala prioritas. Sebab segala sesuatu kegiatan apapun yang dilaksanakan oleh perorangan maupun satuan jika pelaku/penyelenggara yang bermental baik maka hasilnyapun relatif baik namun sebaliknya . Tugas tugas Bintalad yang dimaksud adalah sebagai berilkut :
  • Pertama. Melaksanakan fungsi pembinaan kemampuan para pembina mental yang meliputi pembinaan kemampuan mental rohani, mental ideologi dan mental kejuangan.
  • Kedua. Melaksanakan fungsi pembinaan mental kepada prajurit dan PNS TNI AD beserta keluarganya dalam rangka pembinaan dan penggunaan pada Operasi Militer Perang dan Operasi Militer Selain Perang.
  • Ketiga. Ikut serta dalam kepanitiaan werving/seleksi penerimaan prajurit, guna memberikan bantuan teknis pada pendalaman seleksi Mental Ideologi untuk mendapatkan calon prajurit dengan kualitas mental sesuai yang diharapkan.
    Dari tiga tugas diatas saya akan menyoroti terhadap tugas yang ke tiga, yaitu masalah keikutsertaan Bintalad dalam kepanitiaan werving/seleksi penerimaan prajurit pada pendalaman mental ideologi. Karena sampai saat ini tugas tersebut hampir tidak pernah dilaksanakan atau tidak pernah dilibatkan. Ada pepatah “Apa yang kamu tanam, itu yang kamu tuai”, kalau kita menanam pohon dengan bibit unggul maka hasilnya pasti menguntungkan/menggembirakan. Sama halnya dengan memilih calon prajurit, kalau kita memilih/werving prajurit tidak teliti dan tidak hati-hati maka hasilnya dikemudian hari akan menimbulkan banyak masalah.
    Dalam teori disiplin mental, individu memiliki kekuatan, kemampuan atau potensi-potensi tertentu. Menurut Jean Jacques Rosseon, anak memiliki potensi-potensi yang masih terpendam, melalui belajar anak harus diberi kesempatan untuk mengembangkan atau mengaktualkan potensi tersebut.
    Menurut pengertiannya, Mental adalah kondisi jiwa yang terpantul dalam sikap dan perilaku seseorang terhadap berbagai situasi yang dihadapi . Ini artinya faktor mental adalah sangat menentukan perbuatan seseorang. Seseorang yang mentalnya baik maka segala perbuatannya akan melahirkan tindakan-tindakan yang baik pula (prestasi, juara, jago, unggul, berani dan konsisten).
    Pertanyaannya, mengapa dalam memilih dan menyiapkan prajurit kita hanya meneliti pada aspek ”Mental Ideologi” saja. Sementara komponen mental terdiri dari mental rohani, mental ideologi dan mental kejuangan. Seperti halnya menyangkut kompetensi mental rohani calon prajurit, jika si calon prajurit mengaku beragama islam maka yang bersangkutan harus lulus dan teruji tentang rukun islam dan rukun imam begitu pula terhadap calon prajurit yang  beragama lain sesuai dengan kaidahnya. Yang menyangkut kompetensi mental kejuangan, maka si calon prajurit harus memiliki nilai-nilai mental kejuangan yang terdiri dari sifat pantang menyerah, rela berkorban, keperwiraan, semangat juang dan etos kerja, yang nantinya akan melahirkan militansi. Sedangkan yang terkait dengan aspek mental ideologi maka calon prajurit harus memiliki rasa cinta tanah air dan kesetiaan kepada NKRI, disiplin yang tinggi dan jiwa soliditas yang nantinya akan melahirkan jiwa nasionalisme.

Mental sebagai penjuru.

    Sesuai Road map bidang personel TNI AD telah mencantumkan tata nilai Spersad yaitu Smart, trustworthy, responsive, integrity, knowleadgegeable dan excellent. Tata nilai tersebut dilakukan dengan beberapa kriteria yaitu melalui pengukuran perubahan perilaku personel TNI dalam pelaksanaan tugas sehari-hari. Sehingga penataan sistem manajemen Sumber Daya Manusia TNI AD bertujuan untuk meningkatkan disiplin dan profesionalitas Prajurit dan PNS TNI AD melalui kegiatan pendidikan, latihan dan pembinaan serta ketaatan terhadap aturan dan ketentuan dalam Prajurit dan PNS TNI AD. Penataan Sistem Rekrutmen Personel TNI AD menjadi prioritas utama untuk mewujudkan etos kerja prajurit yang berkualitas yang memiliki jati diri sebagai Tentara Rakyat, Tentara Pejuang, Tentara Nasional dan Tentara Profesional. Maka tidak ada salahnya menempatkan faktor mental menjadi penjuru dalam setiap bentuk kegiatan. Karena tujuan Bintalad yaitu mewujudkan mental yang tangguh terhadap prajurit, PNS TNI AD  beserta keluarganya sesuai dengan jati diri TNI.

http://trioredosaputra-tp-unbara.blogspot.co.id/2012/12/teori-disiplin-mental.html. Diakses tanggal 12 mei 2016
Peraturan  Kasad Nomor Perkasad/71/XII/2013Tanggal  31  Desember 2013, Hal 22

Sumber Daya Manusia Bintalad

    Dalam rumusan yang pendek bahwa manusia yang berkualitas adalah manusia yang beriman dan bertaqwa, kreatif, inovatif, produktif, mandiri, berdisiplin serta memiliki motivasi kerja yang tinggi. Tentunya kualitas manusia tersebut merupakan nilai-nilai final yang perlu dijabarkan dalam suatu pola dan tingkatan. Hal ini merupakan kriteria yang harus dipenuhi dalam memilih sumberdaya manusia yang berkualitas.
    Masalah sumberdaya manusia pada tugas pembinaan mental seharusnya menjadi prioritas utama, karena semua kegitan baik itu yang dilakukan oleh pemimpin maupun yang dipimpin berpulang kepada mental pelakunya. Pembinaan mental di satuan saat ini dipandang sebelah mata, karena pada kenyataannya jabatan pabintal satuan tidak menjadi prioritas, dan sering tidak terisi.       Bahkan yang lebih memprihatinkan Satuan bintal dijadikan tempat penampungan prajurit yang notabenenya banyak permasalahan di satuan lamanya. Belum lagi ditambah pejabat bintal yang latar belakang pendidikannya  tidak seimbang dengan tugas dan tanggungjawab yang diembannya, sehingga kinerjanya tidak optimal. Padahal sebagai seorang Pembina mental dibutuhkan personel yang berkualitas, baik dari aspek rohani maupun jasmaninya. Karena seorang Pembina harus menjadi contoh tauladan supaya ucapannya dapat diterima dan diikuti oleh yang dibina.
    Potensi Sumber Daya Manusia Pembina mental yang dimiliki setiap pejabat/personel bintal merupakan motor penggerak yang handal untuk mendukung pelaksanaan kegiatan di satuan. Oleh karena itu kebijakan pelaksanaan pembinaan potensi sumber daya manusia Pembina mental  harus dilakukan secara terencana, terpadu, konsepsional dan sistematis serta berkelanjutan. Kegiatan Pembinaan potensi sumber daya manusia Pembina mental  dilakukan dengan berpedoman pada prinsip prinsip manajemen:
  1. Perencanaan kebutuhan, yang dilakukan secara terpusat melalui kegiatan pendataan, klasifikasi dan identifikasi, serta penyusunan formasi.
  2. Pelaksanaan, yang dilaksanakan melalui kegiatan rekruitmen, pendidikan dan pelatihan pengetahuan bintal, serta pengorganisasian.
  3. Pengawasan dan pengendalian yang dilakukan melalui kegiatan monitoring dan evaluasi, pengawasan fungsional dan pengawasan melekat.
    Dari uraian singkat diatas mungkin kita bisa mempertimbangkan sendiri, seberapa pentingkah faktor mental didalam setiap pelaksanaan kegiatan atau tugas-tugas seorang prajurit khususnya. Setelah kita bisa menjawabnya, maka yang terpenting adalah berbuatlah yang terbaik, berani, jujur dan ikhlas sesuai kemampuan.
    Demikian artikel singkat ini, mohon maaf jika mungkin  pembaca kurang berkenan dan tidak sejalan dengan tulisan ini, bahkan mungkin berseberangan, namun artikel ini tidak untuk memojokan ataupun protes terhadap kebijakan pimpinan.  Akan tetapi penulis hanya berharap semoga bermanfaat.
By. Kolonel Inf. Yoyo Subrolarang.

 



 

 

  Copyright @ 2012 - disbintalad